Senin, 31 Oktober 2011

Bahan Bakar Kehidupan


Bila dalam satu detik jantung berdenyut dua kali, berarti saya dapat mengibaratkan tubuh ini sebagai sebuah mesin kendaraan yang sangat kompleks yang memiliki bahan bakar alami: DENYUT JANTUNG. Jumlah denyut jantung yang diberikan kepada setiap insan di dunia ini telah ditetapkan besarnya. Tidak akan bertambah ataupun berkurang walaupun hanya satu denyutan. Layaknya ibarat mesin, bahan bakar dalam tanki penyediaan akan terus berkurang seiring dengan penggunaan kendaraan tersebut. Demikian pula dengan jumlah denyut jantung yang diberikan kepada kita. Dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, bahan bakar "denyut jantung" tersebut menjadi semakin menipis persediaannya. 

Seorang pemilik kendaraan yang bijak tentu akan mempergunakan bahan bakar tersebut dengan sebaik-baiknya. Yang akan mengantarkan sang pemiliknya ke tempat-tempat yang ditujunya. Lalu bila ada seorang pemilik kendaraan, yang hanya menghidupkan mesin kendaraannya di dalam garasi tanpa pernah dijalankan selama beberapa hari, sebutan apa yang dapat kita berikan kepadanya? Padahal sangat jelas bahwa fungsi kendaraan adalah untuk tujuan transportasi. 

Demikian halnya kita sebagai hamba Allah SWT. Telah jelas bahwa maksud penciptaan diri manusia adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Allah SWT. Telah ditetapkan pula jumlah "persediaan bahan bakarnya". Lalu akan kita habiskan untuk apa "bahan bakar" ini? Apakah seperti orang bodoh yang membuang bahan bakar kendaraan dari tanki persediaan agar nantinya menguap hilang dengan sendirinya, seperti orang-orang yang berkata "hanya untuk sekadar menghabiskan waktu" dengan melakukan hal yang sia-sia, menguap hilang tanpa ada bekas.

izin aku cuti dari da'wah



" IZINKAN AKU CUTI DARI DA'WAH داکواه"

Bahan Bakar Kehidupan

Bila dalam satu detik jantung berdenyut dua kali, berarti saya dapat mengibaratkan tubuh ini sebagai sebuah mesin kendaraan yang sangat kompleks yang memiliki bahan bakar alami: DENYUT JANTUNG. Jumlah denyut jantung yang diberikan kepada setiap insan di dunia ini telah ditetapkan besarnya. Tidak akan bertambah ataupun berkurang walaupun hanya satu denyutan. Layaknya ibarat mesin, bahan bakar dalam tanki penyediaan akan terus berkurang seiring dengan penggunaan kendaraan tersebut. Demikian pula dengan jumlah denyut jantung yang diberikan kepada kita. Dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, bahan bakar "denyut jantung" tersebut menjadi semakin menipis persediaannya.

Seorang pemilik kendaraan yang bijak tentu akan mempergunakan bahan bakar tersebut dengan sebaik-baiknya. Yang akan mengantarkan sang pemiliknya ke tempat-tempat yang ditujunya. Lalu bila ada seorang pemilik kendaraan, yang hanya menghidupkan mesin kendaraannya di dalam garasi tanpa pernah dijalankan selama beberapa hari, sebutan apa yang dapat kita berikan kepadanya? Padahal sangat jelas bahwa fungsi kendaraan adalah untuk tujuan transportasi.

Demikian halnya kita sebagai hamba Allah SWT. Telah jelas bahwa maksud penciptaan diri manusia adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Allah SWT. Telah ditetapkan pula jumlah "persediaan bahan bakarnya". Lalu akan kita habiskan untuk apa "bahan bakar" ini? Apakah seperti orang bodoh yang membuang bahan bakar kendaraan dari tanki persediaan agar nantinya menguap hilang dengan sendirinya, seperti orang-orang yang berkata "hanya untuk sekadar menghabiskan waktu" dengan melakukan hal yang sia-sia, menguap hilang tanpa ada bekas.

Hidup yang Dibimbing Allah



Hidup yang Dibimbing Allah
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Qashash: 50)

Misalkan kita hendak memasuki sebuah hutan rimba yang belum kita kenal tempatnya, tentu akan lebih mudah bila kita didampingi seorang pemandu. Yang akan memberi tahu mana jalan yang baik untuk dilalui, mana yang tidak. Apa saja bekal perjalanan yang hendaknya dibawa, dan bagaimana cara mengatasi berbagai kendala selama perjalanan.

Tetapi bisa juga kita memasuki hutan yang tidak dikenal itu, dengan kemampuan yang kita miliki. Kita tidak membutuhkan pemandu, karena percaya akan keahlian kita dalam menghadapi berbagai masalah diperjalanan. Namun, tentu saja cara ini akan lebih susah untuk dilakoni. Banyak energi yang terbuang secara sia-sia, dan belum lagi bahaya tersesat senantiasa membayangi.    

Begitu juga dengan hidup ini, saat masalah datang menerpa. Bila kita mengandalkan kemampuan yang kita miliki, entah itu berupa kepandaian, harta, atau kekuasaan yang kita punya, tapi tanpa petunjuk dari Allah, kesesatanlah yang nantinya akan kita temui.  


Saudaraku, memperoleh petunjuk dari Allah adalah sebuah anugerah yang tak terhingga dalam hidup ini. Sebuah masalah, seberapa pun sukarnya ia, akan menjadi mudah saat ‘tangan-tangan’ Allah memandunya. Karenanya, jangan pernah menyandarkan segala solusi masalah, hanya berlandaskan pada kemampuan yang ada dalam diri kita, sembari melupakan Allah yang menggenggam jiwa ini.  


Manusia memang dikarunia berbagai kemampuan yang dapat dipergunakannya untuk mengatasi masalah. Tetapi, bila kemampuan-kemampuan itu tidak mendapat pengayoman dari cahaya Allah, maka kelak kita akan tersesat oleh ilusi kebenaran yang diciptakannya. Sebagaimana yang Allah nyatakan di surat Al-Qashash ayat 50.      

Jadi, carilah bimbingan dari Allah di setiap detik hidup ini. Raihlah petunjuk-Nya, ketika masalah datang menerpa. Ketuklah pintu ridho-Nya, agar nur ilahi selalu menerangi langkah-langkah kita.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review