Senin, 19 Desember 2011

Untuk Kita Renungkan

Bismillahirohmanirohim.....
Bagaimana kabar iman mu hari ini dan bagaiman dg hati, Semoga Allah memberikan  ketetapan pd kita semua untuk terus menyusuri jalan da’wah ini, Walau terkadang fitnah, Hujatan, Cacian dan makian sering kali mewarnai perjalanan panjang ini.
Raga, jiwa, harta dan air mata telah kita persembahkan dijalan ini hingga terkadang lelah dan jenuh menghampiri setiap jejak perjuangan mengarungi jalan ini .........

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari kalian Orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka .....“
Mereka perperanglah pada jalan Allah : lalu mereka membunuh atau terbunuh...
"dan siapakah yang lebih menempati janjinya dari pada Allah?

...Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar’ 
                                                                        (Q.S At-taubah: 111)
...Saudaraku...Mari tanyakan pada hati kita ...pantas kah kita mengeluh dalam mengarungi jalan ini karena hakikatnya komitmen adalah sebuah totalitas perjuangan ...

Da’wah ini ada atau tidaknya kita disana da’wah akan tetap di perjuangkan, Namun apakah syurga-Nya tidak menggiurkan untuk Mu?..

Saudaraku Mari kita tengong sejenak ..........
Potret sebuah negeri dimana perjuangan dan pengorbanan tak kenal kata LELAH.......

PALESTINA>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>.
Perjuangan dan pengorbanan dan takbir Membaharu ..menggetarkan Musuh-musuh Allah! Jiwa, nyawa, dan air mata yang mulai terevaporasi.. telah mereka persembahkan.. lebih dari apa yang kita persembahkan... semuanya demi tegaknya ISLAM di muka bumi dan menyelamatkan bumi para ambiya.
Semua berlomba-lomba menjemput seni kematian yang paling indah.




SYAHID DI JALAN ALLAH.. Dan ketahuilah 
sesungguhnya  mereka tidak mati !!!
Mereka Hidup di sisinya Allah SWT
Bagaimana dengan kita...?
 Karya apa yang sudah kita torehkan dan kita  persembahkan unkuk da’wah dan negeri ini????

Kami tak pernah tau harus sampai kapan jiwa raga ini harus dipersembahkan, Harus berapa deras darah ini harus dialirkan, Harus sejauh mana kaki ini terus dilangkahkan untuk membangun peradaban sebuah negeri yang Allah titipkan.
Namun jiwa raga ini, darah ini, kaki ini, Tanpa jemu ragu harus terus DISERAHKAN hingga Allah Kelak menggantinya...dengan rhido dan  SURGA-Nya nan indah dan penuh kedamaian.

Subhanallah.....Ayo terus bergerak dan bergerak mnggapai janji Allah.
" Ingin di tolong Allah....?
" Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menyerahkan dirinya untuk berjuang dan menolong Agama Allah" (QS. 22: 40). Ayo sahabat berbuat banyak untuk Islam.

By: Riziq Alghifari Rahman

Minggu, 06 November 2011

Biduk Kecil dan Harapan Kita

Biduk Kecil dan Harapan Kita
                                                                         Riziq ibnu Rahman


Sahabat haruskah aku larut dan hanyut terbawa kegundahan, kesedihan, dan ratap tangis orang-orang yang tidak aku kenal. Kemudian mengkritisi, menghujjah, akhirnya bersimbah air mata hingga air mataku kering dan terevaporasi sendiri.
Kadang aku berpikir, untuk apa aku melakukan semua ini? Bukannya lebih baik aku duduk bersimpuh, berdzikir, dan memelas kepada sang khaliq. Menghitung setiap ruas jari dan butir-butir tasbih dengan tasbih, tahmid, takbir, serta tahlil.
Atau lewatkan setiap waktuku dengan ruku dan sujud ratusan rakaat. Lalui malam-malam hening dengan bermunajah hingga ujung malam, dan menatap setiap lembar mushaf seperti halnya Rabi’ah Al Adawiah beribadah dan beruzlah.
Kemudian kututup telingaku dari jerit tangis anak-anak yatim, janda-janda miskin di pelantaran toko, pinggiran selokan, dan tumpukan sampah. Toh mereka bukan siapa-siapa dan juga mereka tidak memberikan kontribusi apa-apa untukku.
Walau aku tahu untuk menghilangkan rasa laparnya mereka harus berdiri di setiap perempatan, menunjukan wajah memelas dan senyum suram, lalu berkerumun di tumpukan sampah, mengais makanan bersama anjing, unggas, dan tikus. Wajah mereka penuh debu, kotor bermandikan teriknya matahari. Begitulah anak-anak negeri, tertempa kejamnya hidup hingga masa depan bagi mereka hanya didapatkan dalam tidur-tidur lapar.
Entah generasi apa yang dipersiapkan bangsa kita, dengan pendidikan jalanan yang tak ubahnya rimba belantara. Sudahlah! mari kita kubur bersama harapan masa depan yang cerah dimasa sepuluh atau lima belas tahun kedepan, kemudian dengan bangga menyandang gelar bangsa budak pekerja rendahan. Kalau memang hanya generasi ini yang tersisa.
---------------------------------------------------------------II-----------------------------------------------------------------
Sahabat apakah terpikir oleh kita mereka juga butuh pendidikan, butuh masa depan, dan butuh kesempatan. Seharusnya mereka berada di bangku-bangku sekolah untuk belajar, bermain, dan mengejar cita-cita, bukannya berkeliaran di jalanan. 
Hingga kemudian aku bertemu dengan sahabat-sahabat yang juga peduli akan hal ini, lalu kami merenungi langkah kedepan dan kami pun sepakat akan membawa mereka ke pulau impian. Kami mencoba mengajak kapal-kapal besar yang ada untuk mengangkut mereka, namun sayang tak satu pun peduli.
Maka tak ada pilihan lain biduk kecil pun kami buat bermodalkan kebesaran hati, beralaskan tauhid, kemudian kayu-kayu kami susun lalu direkat dengan ukhuwah fillah, palu determenasi kami dentamkan pada sahabat yang tak mengenal batas baik usia, warna, maupun bangsa..., kami usung kemelut ini sebagai masalah umat dan bahkan biduk kecil ini telah kami luncurkan dibahari yang luas dan lepas tak kenal tepi.  Biduk ini kini tengah menyauk dan mengais ikan besar dan kecil, pukatpun telah kami lemparkan, jejaring kian kami lebar-luaskan sejauh yang kami mampu.
Lalu kami berusaha seberangkan ke gugusan pulau Nusantara agar anak anak nusantara bisa kembali memegang pensilnya, menenteng tas ransel. Mengembalikan haknya sebagai insan, mengembalikan izzahnya sebagai Muslim, hingga was-was dan trauma itu terkikis pada kisi kisi hati mereka, pelan tapi pasti.
Namun perjalanan tidak semudah yang kami kira. Kendala, karang tajam serta aral yang merintang datang bertubi-tubi, namun tetap kami lalui walau beberapa kali kami hampir karam dan tenggelam. Akibatnya, satu persatu dari kami mulai berguguran, mereka pergi meninggalkan kami dengan membawa papan-papan penyusun biduk ini, hingga air pun mulai masuk memenuhi biduk kami. Sekuat tenaga kami mencoba menambal kebocoran-kebocoran yang ada walau peluh dan air mata ikut mewarnai usaha kami.
Sampai kemudian datang kapal-kapal besar mendekati biduk kecil kami, dan meminta sebagian besar dari awak kami untuk ikut dengan mereka. Akankah rekan-rekanku yang tersisa pergi kembali dengan membawa papan-papan biduk ini hingga kebocoran pun semakin parah lalu menenggelamkan biduk kecil ini. Jika itu terjadi biarlah kami yang tersisa terus mendayung biduk ini walau harus berlima, bertiga, atau pun aku seorang diri, meski akhirnya kami harus tenggelam dalam samudera angan bersama cita-cita yang kita bangun bersama.
Sahabat-sahabatku yang dirahmati Allah……
Kami sadar sahabat-sahabat adalah orang-orang pilihan yang tentunya sangat dibutuhkan dimana-mana, dan tentunya setiap jalan juang pasti baik. Namun sahabat, satu harapan kami janganlah sahabat meninggalkan biduk ini, jika sahabat merasa lelah atau tidak bisa konsentrasi dalam dua kendaraan sekaligus kami siap untuk membantu tugas sahabat. Akan tetapi, jangan telanjangi biduk ini dengan meninggalkannya yang kemudian menenggelamkan biduk impian kita bersama.
Kami tidak melarang sahabat untuk mengambil amanah lain yang sama-sama memiliki nilai positif disisi Allah. Karena sesunguhnya memegang beberapa amanah bukanlah suatu masalah malah menambah nilai kita disisi Allah dan mempermudah jalan da’wah kita. Oleh karena itu, kami mempersilahkan sahabat mengambil amanah-amanah yang di berikan namun jangan telanjangi biduk ini dengan meninggalkannya atau membandingkannya dengan kapal-kapal motor besar yang tentunya lebih nyaman dan menjanjikan.
Hanya perjuangan yang ditawarkan biduk ini, bukannya rasa nyaman atau ketenaran, karena hanya janji Allah akan taufik (pertolongan-Nya) yang menjadi penggerak biduk ini, bukan kekuatan materi apalagi dukungan kekuasaan. Biarlah Allah yang menentukan nasib biduk ini entah akan Ia tenggelamkan atau Ia mudahkan sampai tujuan, karena tugas kita hanyalah berjuang, berjuang, dan terus berjuang. Sampaikan nyata cita-cita  “HIidup Mulia Hingga Mati Syahid”
ditulis : Riziq ibnu Rahman

Rabu, 02 November 2011

Kita dan Al Qur'an

Kempat Kedekatan Sahabat Muslim Dengan Al-Qur'an
Pertama, tersebutlah dalam sebuah cerita bahwa sepasang suami isteri dari sebuah desa berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka tahu, bahwa mutu emas di tanah Arab itu sangat tinggi serta harganya pun relatif lebih murah. Untuk itu, mereka pun sepakat untuk membeli kalung dan seperangkat perhiasan lainnya. Sekembali ke kampungnya, mereka menyimpang emas-emas tersebut dalam sebuah laci yang indah dan dikunci rapat-rapat. Mereka melakukannya karena menganggap bahwa emas tersebut adalah sesuatu yang berharga, memiliki nilai besar (value) sehingga perlu dijaga dengan disimpan di tempat yang aman. Akhirnya, emas tersebut tidak pernah dipakai atau dinikmati sebagai perhiasan yang berharga karena kekhawatiran akan menurunkan nilai atau value dari emas yang dilikinya.
Kedua, sepasang suami isteri dari kampung lain melancong ke kota New York, kota metropolitan, kotanya dunia. Setiba di New York, mereka mencari tempat untuk menyewa mobil. Setelah deal selesai, sang penyewa meminta sebuah "map" (peta) kota New York. Mereka sadar, sebagai musafir yang asing (stranger traveler) mereka memerlukan peta agar tidak tersesat dalam perjalanan di kota yang baru bagi mereka. Sayangnya, selama perjalanan peta (map) tersebut hanya dipegang, minimal dilihat tapi tidak difahami secara serius petunjuk-petunjuknya. Akhirnya, mereka berjalan dan berjalan, namun tujuan yang ingin dicapainya tidak pernah dicapainya. Bahkan mereka berjalan ke arah yang sesat, terperangkap dalam sebuah rimba yang penuh binatan buas.
Ketiga, seorang pemuda kampung datang ke kota. Setiba di kota, sang pemuda diajak ke pantai oleh seorang temannya yang kebetulan penyelam. Sesampai di pantai tersebut, sang pemuda pertama kali menemukan kotoran-kotoran, sampah-sampah dan hanya pasir-pasir dan batu-batuan. Terbetiklah dalam benak pemuda kampung, betapa bodohnya pemuda kota yang selalu menyelam di lautan yang hanya penuh kotoran dan sampah tersebut. Sang pemuda kampung tidak sadar, betapa dalam lautan tersembunyi mutiara dan berbagai benda berharga lainnya. Sayangnya, sang pemuda hanya mampu melihat pinggiran lautan yang tidak terpelihara secara baik sehingga penuh dengan kotoran dan sampah dan tidak mampu menangkap berbagai rahasia keindahandi dalamnya.
Keempat, Seorang pensiunan hansip dari sebuah kampung terpencil pergi melancong ke kota London. Selama menjadi hansip, dia selalu taat dengan aturan-aturan yang selama ini dihafalnya, termasuk menghafal lafaz pancasila dan pembukaan uud 45-nya. Sebagai law obedient person, dia sudah bertekad untuk tidak melakukan lagi hal-hal lain yang di luar hafalannya. Setiba di London, sang hansip diperhadapkan kepada aturan-aturan baru yang selama ini belum ada di pemikirannya. Maka, ia menolak untuk mentaati kota London karena menurutnya, aturan-aturan tersebut tidak sesuai dengannya yang selama ini difahaminya.

Ikh
wafillah,
Kira-kira begitulah sekarang ini. Kita dalam berinteraksi dengan Al Qur'an berada pada posisi di atas, atau minimal berada pada salah satu kelompok manusia as sebagaimana digambarkan di atas:

Pertama, kita sadar bahwa Al Qur'an itu sangat berharga, memiliki nilai yang sangat tinggi. Al Qur'an itu kita hargai dan cintai. Namun pernghargaan dan kecintaan kita terhadap Al Qur'an, ibarat kecintaan dan penghargaan seorang haji terhadap emasnya. Kita membeli Al Qur'an yang paling fancy, yang paling mahal dan paling indah. Sayangnya, Al Qur'an hanya dijadikan perhiasan yang tersimpan di dalam laci, dikunci karena dianggap suci. Al Qur'an justeru karena keyakinan kesuciannya, jarang tersentuh. Paling tidak, hanya disentuh disaat akan membaca Yaasiin, karena mungkin seseorang di antara anggota keluarga ada yang sakit keras (sakarat) atau mungkin karena seseorang meninggal dunia.
Kedua, kita sadar bahwa kita semua adalah musafir menuju peristirahatan akhir. Kita berjalan menuju alam kekal. Dan di dalam perjalanan ini, kita membutuhkan peta (map), petunjuk jalan agar kita tidak tersesat. Dengan peta, kita minimal akan mudah menemukan jalan yang terefektif dan aman. Jika tidak, maka mungkin saja, kita tersesat ke dalam hutan rimba yang penuh srigala dan binatan buas lainnya. Dunia ini adalah ganas. Dunia ini penuh dengan perangkap dan tipu muslihat. Kalaulah dalam perjalanan ini, kita tidak cermat mencari jalan aman, sesuai dengan petunjuk jalan yang baku, maka kita dapat terjatuh dalam perangkap dan tipu muslihat duniawi. Sayangnya, peta atau petunjuk jalan tersebut, hanya dipegang dan tidak dipelajari, atau minimal dibaca tapi tidak difahami. Sehingga rasanya, perjalanan kita serba semrawut tidak terarah, karena peta yang kita miliki hanya justeru menjadi beban dalam perjalanan.

Ketiga, kurangnya keimanan dan keilmuan kita, menjadikan kita kadang tergesa-gesa mengambil sebuah kesimpulan keliru terhadap Al Qur'an. Arogansi manusia tidak jarang berkata, Al Qur;an itu hanya penuh dengan beban-beban ajaran yang menghambat kemajuan hidup atau kehidupan yang dinamis. Al Qur'an menghambat kemajuan dunia. Al Qur'an telah usang. Al Qur'an hanya akan semakin menghambat kehidupan yang modern. Ibarat pemuda kampungan yang diajakn jalan ke pinggir pantai pertama kali. Padahal, Al Qur'an adalah lautan yang tak akan pernah habis terselami. Di dalamnya tersimpan segala sesuatu yang berharga. Di dalamnya ada emas, mutiara dan berbagai barang mulia dengan valuenya yang sangat tinggi. Sayang otak kampungan menganggapnya justeru hanya “hambatan” kemajuan kehidupan yang dianggap modern.
Keempat, pada semua negeri ada aturan. Aturan adalah sebuah keniscayaan. Negeri tanpa aturan tak lebih dari sebuah negeri dari kumpulan hewan-hewan. Manusia yang hidup dalam sebuah negeri, tanpa ingin diatur oleh sebuah aturan, mereka tak lebih dari hewan-hewan yang berbentuk manusia. Kita hidup di negerinya Allah. Kita menumpang mencari makan, sedang melancong (musafir) dalam negeriNya. Maka, akankah diterima sebagai sebuah kewajaran, di saat kita mengatakan bahwa aturan Al Qur'an tak bisa diterima karena "aku" sendiri sudah punya aturan? Jika tetap berpendirian demikian, silahkan cari negeri, silahkan cari dunia, di mana anda dapat mengklaim sebagai dunia yang Tuhan tidak perlu campur tangan. Ciptakanlah dunia baru anda, yang di dalamnya Tuhan memang tidak perlu campur tangan. Selama anda masih ada di planet sekarang, planet yang anda merasa belum pernah menciptakannya sendiri, jangan coba-coba berprilaku “kuno” menganggap punya aturan-aturan sendiri. Karena di mana pun anda pergi, setiap pemilik negeri akan membuat aturannya sendiri. Dan dunia seluruhnya (al’aalamiin) adalah negeriNya Allah. Untuk itu, adalah sangat tidak masuk akal dan tidak realisits, jika anda menolak aturan Allah SWT.

Sahabat Muslim:  Lalu di manakah saya, anda dan kita semua? Masih masih-masing kita melakukan introspeksi. Buka akal dan hati, hancurkan keegoan dan kesombongan  yang selalu angkuh dan bersikap sebagai mana  “fir’aun  memungkir kehebatan mu'jizat dan kebesaran Allah.
Di tulis : Riziq ibnu Rahman

Keutamaan Memuliakan Anak Yatim


Keutamaan memuliakan anak yatim selain mendapatkan  “makanan jiwa”  ternyata berbagi untuk anak yatim dan duafa bisa membuat kita mendapat begitu banyak kebaikan diantaranya beroleh kebaikan berlipat ganda dan dilembutkan hatinya.
  • "Barangsiapa meletakkan tangannya diatas kepala anak Yatim dg penuh kasih sayang, maka ALLAH akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yg disentuhnya" (H.R. Ahmad)
  • "Seseorang mengeluhkan hatinya yg keras kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda : “ Usaplah kepala anak YATIM (dg penuh kasih sayang) dan beri makanlah orang miskin." (H.R. Ahmad)
  • “Aku dan pemelihara anak YATIM, dinsorga seperti ini” kata Rasulullah sambil memberi isyarat dg merapatkan jari telunjuk dan jari tengah beliau." (H.R Bukhari)
  • “Barang siapa yang mengambil anak YATIM dari kalangan Muslimin, memberinya makan dan minum maka ALLAH akan memasukkanya ke sorga, kecuali bila mereka melakukan dosa besar yg tak terampuni", (syirik- pen) – (H.R. Thurmudhi)
  • “ Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim, dia bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad fisabilillah. Dan kelak di surge bersamaku bagaikan saiudara, sebagaimana kedua jari ini, yaitu jari telunjuk dan jari tengah". (HR Ibnu Majah)
Rumah tempat pemeliharaan anak YATIM tsb akan sangat dimuliakan:
  • “Sebaik-baik rumah kaum muslimin adalah rumah yg didalamnya anak YATIM diperlakukan dg sangat baik. Dan sejelek-jelek rumah kaum muslimin adalah rumah yg didalamnya anak YATIM diperlakukan dg sembarangan dan kasar.” (H.R. Ibnu Mubarak)
Bebas dari siksa hari qiamat:
  • “Demi yang mengutusku dengan hak, ALLAH tidak akan menyiksa pada hari qiamat nanti, orang-orang yang menyayangi anak yatim, santun dan lemah lembut pembicaraan mereka dengan anak YATIM itu serta menyayangi kelemahan dan keyatimannya" (H.r. Thabrani dari Abu Hurairah)
Makan bersama anak YATIM, takkan mungkin didekati syetan;
  • “Tidak akan mungkin seorang anak YATIM ikut hadir dalam suatu perjamuan makan, lalu syetan mendekati makanan itu” (H.R. At-Thabrani)

Selasa, 01 November 2011

Senin, 31 Oktober 2011

Bahan Bakar Kehidupan


Bila dalam satu detik jantung berdenyut dua kali, berarti saya dapat mengibaratkan tubuh ini sebagai sebuah mesin kendaraan yang sangat kompleks yang memiliki bahan bakar alami: DENYUT JANTUNG. Jumlah denyut jantung yang diberikan kepada setiap insan di dunia ini telah ditetapkan besarnya. Tidak akan bertambah ataupun berkurang walaupun hanya satu denyutan. Layaknya ibarat mesin, bahan bakar dalam tanki penyediaan akan terus berkurang seiring dengan penggunaan kendaraan tersebut. Demikian pula dengan jumlah denyut jantung yang diberikan kepada kita. Dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, bahan bakar "denyut jantung" tersebut menjadi semakin menipis persediaannya. 

Seorang pemilik kendaraan yang bijak tentu akan mempergunakan bahan bakar tersebut dengan sebaik-baiknya. Yang akan mengantarkan sang pemiliknya ke tempat-tempat yang ditujunya. Lalu bila ada seorang pemilik kendaraan, yang hanya menghidupkan mesin kendaraannya di dalam garasi tanpa pernah dijalankan selama beberapa hari, sebutan apa yang dapat kita berikan kepadanya? Padahal sangat jelas bahwa fungsi kendaraan adalah untuk tujuan transportasi. 

Demikian halnya kita sebagai hamba Allah SWT. Telah jelas bahwa maksud penciptaan diri manusia adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Allah SWT. Telah ditetapkan pula jumlah "persediaan bahan bakarnya". Lalu akan kita habiskan untuk apa "bahan bakar" ini? Apakah seperti orang bodoh yang membuang bahan bakar kendaraan dari tanki persediaan agar nantinya menguap hilang dengan sendirinya, seperti orang-orang yang berkata "hanya untuk sekadar menghabiskan waktu" dengan melakukan hal yang sia-sia, menguap hilang tanpa ada bekas.

izin aku cuti dari da'wah



" IZINKAN AKU CUTI DARI DA'WAH داکواه"

Bahan Bakar Kehidupan

Bila dalam satu detik jantung berdenyut dua kali, berarti saya dapat mengibaratkan tubuh ini sebagai sebuah mesin kendaraan yang sangat kompleks yang memiliki bahan bakar alami: DENYUT JANTUNG. Jumlah denyut jantung yang diberikan kepada setiap insan di dunia ini telah ditetapkan besarnya. Tidak akan bertambah ataupun berkurang walaupun hanya satu denyutan. Layaknya ibarat mesin, bahan bakar dalam tanki penyediaan akan terus berkurang seiring dengan penggunaan kendaraan tersebut. Demikian pula dengan jumlah denyut jantung yang diberikan kepada kita. Dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, bahan bakar "denyut jantung" tersebut menjadi semakin menipis persediaannya.

Seorang pemilik kendaraan yang bijak tentu akan mempergunakan bahan bakar tersebut dengan sebaik-baiknya. Yang akan mengantarkan sang pemiliknya ke tempat-tempat yang ditujunya. Lalu bila ada seorang pemilik kendaraan, yang hanya menghidupkan mesin kendaraannya di dalam garasi tanpa pernah dijalankan selama beberapa hari, sebutan apa yang dapat kita berikan kepadanya? Padahal sangat jelas bahwa fungsi kendaraan adalah untuk tujuan transportasi.

Demikian halnya kita sebagai hamba Allah SWT. Telah jelas bahwa maksud penciptaan diri manusia adalah semata-mata untuk mengabdi kepada Allah SWT. Telah ditetapkan pula jumlah "persediaan bahan bakarnya". Lalu akan kita habiskan untuk apa "bahan bakar" ini? Apakah seperti orang bodoh yang membuang bahan bakar kendaraan dari tanki persediaan agar nantinya menguap hilang dengan sendirinya, seperti orang-orang yang berkata "hanya untuk sekadar menghabiskan waktu" dengan melakukan hal yang sia-sia, menguap hilang tanpa ada bekas.

Hidup yang Dibimbing Allah



Hidup yang Dibimbing Allah
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al-Qashash: 50)

Misalkan kita hendak memasuki sebuah hutan rimba yang belum kita kenal tempatnya, tentu akan lebih mudah bila kita didampingi seorang pemandu. Yang akan memberi tahu mana jalan yang baik untuk dilalui, mana yang tidak. Apa saja bekal perjalanan yang hendaknya dibawa, dan bagaimana cara mengatasi berbagai kendala selama perjalanan.

Tetapi bisa juga kita memasuki hutan yang tidak dikenal itu, dengan kemampuan yang kita miliki. Kita tidak membutuhkan pemandu, karena percaya akan keahlian kita dalam menghadapi berbagai masalah diperjalanan. Namun, tentu saja cara ini akan lebih susah untuk dilakoni. Banyak energi yang terbuang secara sia-sia, dan belum lagi bahaya tersesat senantiasa membayangi.    

Begitu juga dengan hidup ini, saat masalah datang menerpa. Bila kita mengandalkan kemampuan yang kita miliki, entah itu berupa kepandaian, harta, atau kekuasaan yang kita punya, tapi tanpa petunjuk dari Allah, kesesatanlah yang nantinya akan kita temui.  


Saudaraku, memperoleh petunjuk dari Allah adalah sebuah anugerah yang tak terhingga dalam hidup ini. Sebuah masalah, seberapa pun sukarnya ia, akan menjadi mudah saat ‘tangan-tangan’ Allah memandunya. Karenanya, jangan pernah menyandarkan segala solusi masalah, hanya berlandaskan pada kemampuan yang ada dalam diri kita, sembari melupakan Allah yang menggenggam jiwa ini.  


Manusia memang dikarunia berbagai kemampuan yang dapat dipergunakannya untuk mengatasi masalah. Tetapi, bila kemampuan-kemampuan itu tidak mendapat pengayoman dari cahaya Allah, maka kelak kita akan tersesat oleh ilusi kebenaran yang diciptakannya. Sebagaimana yang Allah nyatakan di surat Al-Qashash ayat 50.      

Jadi, carilah bimbingan dari Allah di setiap detik hidup ini. Raihlah petunjuk-Nya, ketika masalah datang menerpa. Ketuklah pintu ridho-Nya, agar nur ilahi selalu menerangi langkah-langkah kita.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review